Kesaktian Jurus Politik Partai Demokrat Melawan Kerakusan Gerindra

POLITIKVIRAL.COM – Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tinggal beberapa bulan lagi. Koalisi kedua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) berlomba menarik dukungan rakyat ke seluruh pelosok Indonesia.

Pertengahan kemeriahan masa kampaye ini, ada berita miring terkait koalisi Prabowo-Sandiaga. Khususnya, hubungan antara Gerindra dengan Demokrat yang sedang bermasalah.

Memang bukan hal baru. Gerindra dan Demokrat sering sekali bermasalah. Platform gerakan politik kedua partai tersebut selalu tidak seirama. Ini seperti saat gerilya pasangan capres cawapres dahulu.

Kala itu, kesepakatan kerja sama koalisi antara Gerindra dan Demokrat menguat, dimana Demokrat mendukung Prabowo sebagai capres, tetapi kursi cawapres diambil Demokrat, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Mengejutkan. Detik-detik terakhir pengumuman pasangan capres-cawapres, Demokrat dicampakkan. Prabowo ternyata malah memilih anak ideologisnya sendiri, Sandiaga Uno, politisi Gerindra yang menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Partai Demokrat pun murka. Melalui kadernya, Andi Arief, Demokrat melabeli Prabowo dengan sebutan JENDERAL KARDUS.

Andi Arief juga mengungkap ada aliran dana Rp500 miliar ke PAN dan Rp500 miliar ke PKS. Aliran dana itu untuk menyogok kedua partai tersebut, agar tiket cawapres diberikan kepada Sandiaga.

SBY dan Demokrat terhimpit. Merasa dikhianati. Keputusan Prabowo memilih Sandiaga sangat mepet, jelang berakhirnya pendaftaran ke KPU.  Demokrat tak ada waktu lobi politik lagi.

Mau tidak mau, Demokrat setuju keputusan koalisi Jenderal Kardus. Bersikap legowo dan tetap mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga. Tidak ada pilihan lain. Ternyata perselisihan Demokrat dan Gerindra tidak selesai di sini saja. Kader Demokrat yang menjabat gubernur malah ramai-ramai mendukung pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf.

Demokrat tidak marah. Secara kelembagaan, Demokrat justru memberikan dispensasi kepada kadernya. Kebebasan menentukan sikap politik, sesuai suasana masing-masing daerah. Demokrat tidak memberikan sanksi.

Gerindra yang mendengar keputusan Demokrat pun tersinggung. Menganggap Demokrat bermain dua kaki. Demokrat beralasan pemberian dispensasi dipilih agar tidak mengganggu suara Demokrat di daerah.

Setelah itu, perseteruan antara Demokrat dan Gerindra surut. Gonjang-ganjing di tubuh koalisi Prabowo bergeser pada persoalan perebutan kursi wakil gubernur DKI Jakarta, pengganti Sandiaga.

Namun, akhir-akhir ini berita perselisihan Demokrat dengan Gerindra kembali muncul ke permukaan. Sang Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono berpidato di hadapan para caleg Demokrat. SBY menyatakan Demokrat tak mendapat keuntungan elektoral dari Prabowo Subianto.

Menurutnya, keuntungan hanya didapatkan bagi partai yang mengajukan capres. Sontak pernyataan tersebut menjadi sorotan partai-partai lain dalam koalisi Prabowo. Gerindra yang mendengar kabar tersebut mempertanyakan Demokrat, kenapa belum menepati janjinya mengampanyekan Prabowo-Sandiaga.

Mendengar balasan Gerindra, pihak Demokrat pun membalas pernyataan tersebut dengan menagih janji yang akan diberikan Gerindra dan Prabowo-Sandi kepada Demokrat yang belum ditunaikan hingga sekarang.

Melihat perselisihan yang terjadi tampak sekali Gerindra seperti rakus akan kekuasaan dan bertindak bagaikan juragan koalisi. Hal ini terlihat sejak pemilihan cawapres pasangan Prabowo hingga perebutan kursi wakil gubernur DKI Jakarta dengan PKS.

Melihat semangat politik kekuasaan Koalisi Prabowo yang jauh dari kepentingan rakyat itu, publik tentu bisa memberikan penilaian. Jargon Adil dan Makmur yang digaung-gaungkan apakah sesuai dengan perilaku elit politik dalam koalisi Prabowo.

Faktanya, koalisi Prabowo sudah rusak sebelum Pilpres 2019. Mari kita simak kerakusan para politisi di tubuh koalisi Prabowo dalam perjuangannya merebut kekuasaan negara ini. Semoga rakyat semakin kritis dalam menentukan pilihan politiknya. (*)

 

Literatur :

https://nasional.kompas.com/read/2018/07/30/14091731/prabowo-gerindra-demokrat-sepakat-koalisi

https://nasional.kompas.com/read/2018/07/25/11271131/jika-gerindra-demokrat-berkoalisi-pks-dan-pan-tak-bisa-banyak-mengatur

https://nasional.tempo.co/read/1115265/sebut-prabowo-jenderal-kardus-andi-arief-itu-jenderal-yang

https://www.liputan6.com/pilpres/read/3616446/makna-jenderal-kardus-versi-andi-arief-yang-ditujukan-ke-prabowo

https://www.jawapos.com/nasional/politik/12/11/2018/di-depan-287-caleg-demokrat-sby-ngaku-tak-untung-dukung-prabowo

https://www.kompasiana.com/paulodenoven/5be97c2612ae9477ab020114/sby-prabowo-tidak-menguntungkan

https://www.liputan6.com/pilpres/read/3691713/demokrat-bebaskan-kader-pilih-capres-ini-respons-gerindra

https://www.liputan6.com/pilpres/read/3691438/sekjen-gerindra-sby-janji-kampanyekan-prabowo-sandi

https://www.liputan6.com/pilpres/read/3692307/demokrat-tagih-balik-janji-gerindra-ke-sby-apa-itu

https://www.liputan6.com/pilpres/read/3692395/demokrat-prabowo-sandiaga-butuh-sby-dan-ahy-tapi-janji-tak-dipenuhi

 

 

Hits: 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *